Sabtu, 18 Mei 2019

Manajemen Krisis


Hasil gambar untuk manajemen krisis
 Manajemen Krisis

Pengertian Krisis
Organisasi sebagai suatu sistem memiliki potensi kontroversial atau konflik. Kedua hal tersebut akan selalu ada dan bahkan tidak bisa dihindari. Kontroversial maupun konflik terjadi karena adanya sejumlah perbedaan dalam kepentingan, tujuan, kebutuhan, komunikasi dan sebagainya. Konflik atau kontroversial yang berkepanjangan jika tidak segera diatasi akan menimbulkan masalah krisis. Terjadinya krisis terkadang memaksa pihak manajemen untuk berpikir positif, kreatif, inovatif. Dengan cara tersebut dapat menemukan cara-cara atau sistem untuk memperbaiki manajemen dan strukturisasi organisasi serta operasionalisasi pelayanan jasa. Istilah krisis erat kaitannya dengan pandangan sistem, khususnya sistem terbuka dan dipergunakan untuk menunjukkan kehancuran yang terjadi pada efektifitas kerjanya. (Kasali, 1994 : 221) Pertama, Krisis diartikan sebagai bencana kesengsaraan atau marabahaya yang datang mendadak. Krisis dalam artian ini mengasumsikan bahwa sumber krisis berada diluar kekuatan manusia juga diluar sistem dan pada saat kemunculannya diluar perhitungan. Kedua, Krisis digunakan untuk menunjukkan bahaya yang datang secara berkala karena tidak pernah diambil tindakan memadai.
Dalam artian ini, krisis berada diluar kekuatan manusia tetapi kemunculan dan berakhirnya dapat diperhitungkan.
Ketiga, Krisis diartikan sebagai ledakan dari serangkaian peristiwa penyimpangan yang terabaikan, sehingga akhirnya sistem menjadi tidak berdaya lagi. Krisis jenis ketiga ini bersumber pada disfungsionalisasi sistem dan kelaian dalam perusahaan atau organisasi.
Pengertian krisis pada dasarnya merupakan titik penentu atau momentum yang dapat mengarah pada kehancuran atau kejayaan. Dan
arah perkembangan menuju kehancuran atau kejayaan tersebut sangat tergantung pada pandangan, sikap dan tindakan yang diambil terhadap krisis tersebut. Krisis memberi kesempatan bagi orang-orang tertentu untuk menjadi pahlawan, penyelamat atau menjadi pengubah. Krisis yang berhasil diatasi pada umumnya akan melahirkan nama besar, keharuman dan reputasi. Djamaludin Ancok Ph. D dalam makalahnya
“Kiat Menghadapi Krisis dalam Perusahaan” mengatakan bahwa “Suatu krisis adalah situasi yang merupakan titik balik (turning point)
yang dapat membuat baik atau buruk. Jika dipandang dari kacamata bisnis “Titik krisis merupakan penentu untuk selanjutnya”. (Ruslan, 1994 : 98) Dampak dari krisis adalah kemelut yang merupakan malapetaka yang dapat merugikan organisasi itu sendiri maupun komunitas sekitar. Dengan adanya krisis akan meresahkan masyarakat sekitar, bahkan secara tidak langsung dapat mengancam citra organisasi. Dampak lain dari krisis adalah kehilangan kepercayaan dan buruknya reputasi organisasi di mata masyarakat. Langkah pertama dalam penanganan krisis adalah identifikasi penyebab krisis untuk mengetahui tipe, jenis, tahapan-tahapan yang sedang terjadi karena identifikasi yang benar akan menghasilkan strategi antisipasi yang tepat. Untuk itu hal pertama yang dilakukan oleh public relations adalah segera menentukan tipe dari krisis karena keseluruhan respon yang diambil akan bergantung pada tipe dan durasi dari scenario yang memungkinkan akan terjadi.
Linke mengelompokkan krisis dalam empat jenis berdasarkan jangka waktu terjadinya serta antisipasi yang dapat dilakukan oleh pihak manajemen dalam menghadapi krisis yaitu : (Linke, 1989 : 167)
  1. The exploding crisis, krisis ini adalah sesuatu yang terjadi diluar kebiasaan, misalnya : kebakaran, kecelakaan kerja atau peristiwa
  2. yang dengan mudah dapat dikategorikan dan dikenali yang mempunyai dampak langsung.
  3. The immediate crisis, yaitu sebuah kejadian yang mungkin membuat pihak manajemen terkejut, tetapi masih ada waktu untuk
    mempersiapkan respon dan antisipasi terhadap krisis tersebut. Misalnya : pengumuman pemerintah tentang ambang batas
    pencemaran, adanya skandal kerja.
  4. The building crisis, yaitu sebuah krisis yang sedang dalam proses dan antisipasi. Krisis ini dapat dirasakan kedatangannya oleh pihak manajemen sehingga pihak manajemen sudah mempunyai antisipasi. Misalnya negosiasi dengan buruh.
  5.  The continuing crisis, yaitu masalah kronis yang dialami suatu lembaga dan memerlukan waktu yang panjang untuk muncul
    menjadi sebuah krisis dan bahkan mungkin tidak dikenali sama sekali, misalnya masalah isu keamanan. Menurut Steven Fink, seorang konsultan krisis dari Amerika mengembangkan konsep anatomi krisis yang dibagi atas empat tahap. Tahap-tahap tersebut saling berhubungan dan membentuk siklus. Lamanya masing-masing tahap tersebut tergantung pada sejumlah variable. Terkadang keempat tahap berlangsung singkat, tetapi ada kalanya membutuhkan waktu berbulan-bulan. Misalnya jenis bahaya, usia perusahaan, kondisi perusahaan, ketrampilan manajer, dan sebagainya. Empat tahap atau fase tersebut adalah : (dalam Ruslan, 1994 : 93-103)
1. Tahap Prodromal
Suatu krisis besar biasanya bermula dari krisis yang kecilkecil sebagai pertanda atau gejala awal (sign of crisis) yang akan
menjadi suatu krisis sebenarnya yang akan muncul dimasa yang akan datang. Pada tahap ini sebenarnya sudah diketahui gejala-gejalanya, tetapi tidak ditanggapi dengan serius atau tanpa mengambil tindakan pengamanan tertentu.
2. Tahap Akut
Bila prakrisis tidak terdeteksi dan tidak segera diambil tindakan yang tepat, maka akan menimbulkan masalah yang lebih fatal. Tahap akut adalah tahap antara, yang paling pendek waktunya bila dibandingkan dengan tahap-tahap lainnya. Namun salah satu kesulitan besar dalam menghadapi krisis pada tahap akut adalah intensitas dan kecepatan serangan yang datang dari berbagai pihak yang menyertai tahap ini. Kecepatan ditentukan oleh jenis krisis yang menimpa perusahaan atau organisasi, sedangkan intensitas ditentukan oleh kompleks permasalahan. Meskipun tahap ini merupakan krisis yang berlangsung secara singkat, tetapi masa akut ini adalah masa yang cukup menegangkan dan paling melelahkan untuk ditangani.
3. Tahap Kronis
Adalah masa pemulihan citra (image recovery) dan merupakan upaya meraih kepercayaan kembali dari masyarakat. Masa krisis kronis berlangsung cukup panjang tergantung pada jenis dan bentuk krisisnya. Tahap kronis juga merupakan masa untuk mengadakan instropeksi kedalam dan keluar tentang kenapa dan mengapa krisis bisa terjadi?. Masa ini juga sangat menentukan berhasil atau tidaknya melewati masa krisis, bila terjadi keguncangan manajemen dan kebangkrutan perusaaan atau organisasi.
4. Tahap Resolusi
Tahap ini adalah tahap penyembuhan (pulih kembali) dan tahap terakhir dari empat tahap krisis. Pada masa ini, perusahaan atau organisasi yang bersangkutan akan bangkit kembali seperti sedia kala. Setelah melalui proses perbaikan dan pemulihan sistem produksi, pelayanan jasa, strukturalisasi manajemen dan operasionalisasi. Setelah itu baru memikirkan pemulihan citra (image recovery) dan mengangkat nama perusahaan dimata khalayak dan masyarakat luas lainnya. Pada tahap ini secara operasional, personel dan manajemen menjadi lebih matang dan mantap, karena sudah melaui proses perbaikan dan restrukturalisasi dan lain sebagainya. Khususnya bagi praktisi Public Relations akan lebih siap dengan kiat manajemen krisis untuk mengantisipasi
hal serupa dikemudian hari.
2. Definisi dan Ruang Lingkup Manajemen Krisis
Fungsi dasar manajemen meliputi planning, organizing, staffing, leading, dan controlling. (Putra, 1999 : 12)
  • Planning atau perencanaan meliputi penentuan tujuan dan tindakan, pengembangan aturan, prosedur, pengembangan rencana dan melakukan prediksi.
  • Organizing meliputi pemberian tugas kepada bawahan, membuat bagian-bagian, membuat jaringan perintah dan koordinasi kegiatan bawahan.
  • Staffing meliputi peekrutan karyawan yang sesuai dengan kebutuhan organisasi, kualifikasi karyawan, pelatihan dan
    pengembangna karyawan.
  • 4. Leading meliputi segala hal yang perlu dilakukan agar target pekerjaan dapat tercapai seperti supporting dan motivating.
  • Controling merupakan penentu standar kemudian membandingkan. Manajemen krisis merupakan serangkaian kegiatan penangan krisis, dimulai dari persiapan dengan menitik beratkan pada perencanaan dan penanganan dimasa krisis, sampai dengan pasca krisis. Manajemen krisis mensyaratkan adanya perencanaan, dimaksudkan agar ketika krisis terjadi organisasi bisa menerapkan dan
    mengembangkan perencanaan sesuai dengan situasi dan kondisi, dan diharapkan dampak negative yang ditimbulkan dapat diminimalisir.  
 Fungsi dan Peran Public Relations  
Ada beberapa perbedaan pokok antara fungsi dan tugas Humas yang terdapat di instansi Pemerintahan dengan non Pemerintah
(lembaga komersial), walaupun Humas dalam instansi Pemerintah juga melakukan hal yang sama dalam kegiatan publikasi, promosi dan
periklanan. Tetapi Public Relations atau bagian Humas dalam instansi pemerintah lebih menekankan pada public services atau demi
meningkatkan pelayanan pada umumnya yakni masyarakat. (Ruslan, 1994 : 297)
Fungsi pokok Humas Pemerintahan Indonesia pada dasarnya, antara lain :
b. Mengamankan kebijakan Pemerintah
c. Memberikan pelayaan dan menyebarluaskan pesan atau informasi mengenai kebijakan dan hingga programprogram kerja secara nasional kepada masyarakat.
d. Menjadi komunikator dan sekaligus sebagai mediator yang proaktif dalam menjembatani kepentingan instansi pemerintah satu pihak, dan menampung aspirasi, serta mempertahankan keinginan-keinginan publiknya dilain pihak.
e. Berperan serta dalam menciptakan iklim yang kondusif dan dinamis demi mengamankan stabilitas dan keamanan politik pembangunan nasional, baik jangka pendek maupun jangka panjang. (Ruslan, 1994 : 299-300) Selain itu Edward L. Barney menuliskan fungsi utama Publik Relations dalam bukunya Public Relations University of Oklahoma Press, yaitu :
1. Memberikan penerangan kepada masyarakat
2. Memberikan persuasi untuk mengubah sikap dan perbuatan masyarakat secara langsung.
3. Berupaya untuk mengintegrasikan sikap dan perbuatan suatu lembaga sesuai dengan sikap dan perbuatan atau sebaliknya. (Rahmadi, 1992 : 6)
Fungsi Public Relations secara umum adalah memberikan informasi kepada khalayak serta menyerap reaksi dari khalayak dalam melaksanakan fungsi lembaga atau organisasi. Selain itu, diharapkan Public Relations dapat mengatasi masalah yang muncul, mencari dan menemukan kepentingan organisasi yang mendasar dan diinformasikan kepada semua pihak secara jujur, jelas dan objektik
agar citra yang diinginkan terbangun dengan positif. Dalam hal peran ganda yang bersifat dilematik, Public Relations berperan sebagai komunikator, mediator, persuador, organisator, dan konsultan. Public Relations dalam situasi dan kondisi yang kompetitif, mempunyai fungsi utama yaitu bertindak sebagai komunikator, sebagai mediator kemudian bertindak sebagai pendukung manajemen (back up management) dan berupaya bagaimana memperolah atau mempertahankan citra bagi lembaga yang diwakilinya.

Produksi Multimedia/ Pengelolaan Sosial Media

Produksi Multimedia/ Pengelolaan Sosial Media  

 Hasil gambar untuk Produksi Multimedia


TAHAP PRODUKSI MULTIMEDIA

A.      PRE PRODUCTION
         1)     Concept definition (definisi dan Konsep dari produk Multimedia )
misal
Definisi : iklan Televisi Produk Kuku Bima, iklan cetak, iklan radio, dll
Konsep : berhubungan untuk menciptakan Daya Tarik (lucu, Menyedihkan, patriotic, sex dll )
 Eg. Figur mBah Marijan dgn Tagline : “Roso-Roso” //
         2)     Design
Perancangan Awal menerapkan Definisi dan konsep Awal
 biasanya berbentuk “coretan-coretan” dan sketsa
         3)     Production plan (Perencanaan Produksi )
Pengembangan dari Design kedalam Naskah, Storyline, Sinopsis, Storyboard, dll
         4)     Documentation (Pemberkasan)
Pembuatan Proposal Naskah / pengarsipan (berisi : tujuan pembuatan produk, target pengamat/pasar, Perencanaan Produksi, Property yang dibutuhkan, Penghitungan Anggaran dll )
         5)     Assemble team
Pembentukan Tim Ahli dan Property yang tertulis dalam Documentation
Misal : Cameramen, Fotografer, Animator, Talent, dll)
         6)     Building prototype
Membangun prototipe (contoh awal produk sebelum diproduksi)
         7)     Clear right
Penyelesaian dalam hal yang berhubungan dengan per undang-undangan (eg: Ijin Produksi, Pendaftaran Paten/HAKI, dll)
         8)     Client sign-off and funding
Persetujuan dengan Klien/Pemesan beserta Pendanaan.

B.      PRODUCTION
         1)     Content creation (Pembuatan Konten ) : Pembuatan konten sesuai design
Eg: take gambar, pembuatan stok shot animasi, dll
         2)     Content processing (Pemrosesan konten) : Pemrosesan konten yg telah diambil secara analog (non computerized)
Eg : setting tempat, organisasi property/ perlengkapan take gambar
         3)     Software creation ( pembuatan (proses) konten melalui Software(komputer) )
Eg ; Editing, visual FX
         4)     Integration of content and software (Penggabungan seluruh konten dengan diproses dalam software finishing )
Eg : hasil dubbing audio, VFX, ANimasi di render akhir untuk di burning dalam bentuk DVD
         5)     Revise design (Revisi / Peninjauan ulang berdasar pada Perancangan )
dari hasil tahap ke 4 di tinjau ulang dan di analisa ( belum di buat masal)
         6)     Freeze design ( Penyatuan seluruh project yang telah sesuai dengan design )
Apabila hasil analisa dan telah direvisi di satukan menjadi sebuah product “jadi” untuk ditunjukkan terhadap klien
         7)     Revise content and software according to final design
( Revisi/Peninjauan Ulang Konten & software di cocokkan dengan Perancangan Akhir (final Design)
         8)     Build Alpha version ( membangun versi Alfa
Pembuatan contoh awal produk yang dibuat untuk kalangan tertentu
         9)     First testing ( Uji Coba Produk )
      10)     Evaluation ( Evaluasi produk )
      11)     Revise software and content based on evaluation ( Revisi/Peninjauan Ulang Produk berdasar hasil Evaluasi )
      12)     Build Beta version ( membangun versi Beta )
Pada tahap ini produk di buat dgn jumlah lebih banyak tetapi didistribusikan untuk kalangan tertentu  untuk di coba sebelum di distribusikan secara umum)

C.      POST PRODUCTION
         1)     Beta testing (Uji cob Produk Beta oleh kalangan tertentu
         2)     Evaluation (Evaluasi )
         3)     Revise software and content (Peninjauan ulang produk )
         4)     Release Golden Master ( Peluncuran Produk secara Masal untuk Umum )

         5)     Archive all production material ( peng Arsip an semua Materi /bahan mentah dari proses Produksi )



 Proses  produksi  adalah  proses  pelaksanaan  produksi  (syuting)  yang mengacu pada persiapan yang dihasilkandari proses pra produksi. Ada beberapa pihak yang terkait dalam proses produksi, antara lain :
1)  Produser
     Bertanggung  jawab  atas  seluruh  produksi,  dari  mulai  perencanaan,
     penulisan naskah, produksi final dan editing. Juga bertanggung jawab atas
     anggaran,  biaya  produksi  dan  mengorganisir  segala  hal,  termasuk
     operasional  produksi  dan  team.  Untuk  itu  produser  perlu  dibantu  oleh
     sejumlah asisten produser.
2)  Sutradara
     Bertanggung  jawab  atas  hasil  audio  dan  visual  yang  diciptakan,
     mengarahkan  pemain,  mengkoordinir  seluruh  crew  baik  yang  berada  di
     control room maupun di studio floor.  Sutradara  juga harus memperhatikan
     beberapa monitor sekaligus, baik monitor kamera dari sumber video yang
     lain (VTR), dan memilih shot-shot yang akan direkam (on air)
3)  Asisten sutradara
     Membantu  sutradara  dengan  menyiapkan  pemain,  peralatan  dan  bahan
     yang digunakan, juga mengarahkan anggota team produksi lainnya
4)  Asisten produksi
     Bertanggung  jawab  membantu  produser,  sutradara  dan  crew  yang  lain.
     Biasanya bekerja di control room dengan macam-macam catatan, membuat
     perubahan-perubahan yang perlu pada naskah, membagikan naskah pada
     crew, menyiapkan bahan pendukung produksi. Juga sering bekerja di studio
     floor, membisikkan pada pemain dialog yang harus diucapkan apabila lupa.
5)  Direktur teknis
     Bertanggung jawab dalam mempersiapkan dan menyetel semua peralatan
     yang akan digunakan, agar bisa sinkron. Bertugas mengawasi crew teknis
     dan  peralatan  teknis  lainnya.  Sering  bertindak  sebagai  switcher  yang
     mengoperasikan video mixer.
6) Teknisi audio
     Bertanggung  jawab  pada  bagian  audio,  dengan  menghadapi  peralatan
     mixing, audio mixer dan bermacam-macam sumber audio (microphone, tape,
     recorder).  Mengatur  balance  suara  dari  berbagai  sumber,  juga  mengatur
     penempatan mikrofon.
7)  Direktur tata cahaya
     Bertanggung  jawab  atas  perencanaan  dan  pelaksanaan  tata  cahaya,
     mengatur  penempatan  sumber  cahaya,  mengarahkannya  sehingga
     memperoleh efek yang diinginkan.
8)  Direktur seni
     Bertanggung jawab merencanakan setting dekorasi, mengawasi konstruksi
     set, penataan grafis dan sebagainya.
9)  Juru kamera
     Bertugas  mempersiapkan,  mengatur  kamera  dan  mengoperasikannya,
     sehingga memperoleh gambar dengan komposisi yang baik.
10)  Operator video tape
        Bertanggung  jawab  atas  kualitas  teknik  hasil  rekaman  pada  VCR  (Video
        cassete recorder), sekaligus mengoperasikannya.

Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat syuting dalam proses produksi, yaitu :
1.  Angle
     Adalah  sudut  pandang  pengambilan  gambar  yang  dapat  dilihat  dari
     viewfinder padasebuah kamera film/video. Dimana pemilihan angel sangat
     berperan penting dalammenciptakan unsur artistik dan pemahaman cerita
     dalam  membuat  adegan  sesuai  dengan
     script/naskah.
2.  Lighting/Pencahayaan
     Dalam  sebuah  proses  pengambilan  gambar  diperlukan  adanya  aset
     pencahayaan  yangmemadai.  Baik  itu  didapat  dari  sumber  natural  (sinar
     matahari) pada shotingexterior/luar ruang, ataupun melalui bantuan sinar
     lampu pada shoting interior/dalamruang.
3.  Komposisi
     Merupakan  teknik  pengaturan  posisi  gambar,  ukuran  dan  kedalaman
     ruang,  perspektif  dan  mood  adegan  untuk  menghasilkan  citra  sesuai
     dengan tuntutan script/naskah.
4.  Log/Catatan Syuting
     Diperlukan adanya log/catatan yang dibuat menjelaskan penandaan setiap
     gambar  peradeganyang  sudah  selesai  diambil,  dilengkapi  dengan
     keterangan koordinat waktu(timecode) pada kaset yang digunakan. Proses
     ini akan sangat membantu mempercepatproses pengeditan gambar.

Sabtu, 23 Maret 2019

Tokoh PR Favorite versi saya

REITA SITANALA



Reita Sitanala adalah salah satu tokoh Public Relations sukses di Indonesia. Menuntut ilmu komunikasinya  sebagian besar di luar negeri Yaitu di Webster university Leiden di Belanda dan George Mason university di Washington D.C, USA.
Reita Sitanala memiliki lebih dari 15 tahun pengalaman di bidang komunikasi. Karirnya dalam komunikasi dimulai ketika ia bergabung dengan Indo Hubungan Iklan Publik dalam hubungan dengan Ogilvy & Mather Worldwide sebagai Konsultan Hubungan Masyarakat tahun 1994 – 1997. Pada tahun 1995, dia memberikan kontribusi terhadap pengenalan keberhasilan Nokia Mobile Phones di pasar Indonesia, dalam menciptakan perusahaan dan citra merek. Dia juga di belakang pengenalan keberhasilan pasar super TOPS (perusahaan dari Royal Ahold) di Indonesia pada tahun 1996.
Pada pertengahan tahun 1997, ia bergabung dengan Intel Corporation sebagai Manajer Humas untuk operasi Indonesia. Reita memimpin keberhasilan Intel ® Pentium ® II prosesor meluncurkan kepada media di Indonesia. Salah satu prestasinya juga untuk posisi Intel sebagai perusahaan terkemuka dalam semikonduktor dan keadaan teknologi seni di Indonesia. Pada tahun 2003, ia bergabung dengan Mobile-8 Telecom sebagai Manajer Humas dan mengembangkan prosedur umum perusahaan Hubungan standar operasional dan Kebijakan Media.
Reita telah membangun hubungan yang sangat kuat dengan wartawan / reporter sampai pemimpin redaksi dari semua segmen media nasional. Mendalam pengetahuan dan pemahaman tentang semua aspek Humas akan menambah nilai dan memenuhi kebutuhan klien dan harapan. Dia juga menangani pelatihan media untuk Bali Nirwana Resort, Mobile-8 Telecom, dan Business Software Alliance (BSA) eksekutif. Dia ikut mendirikan Lucid Komunikasi pada Januari, 2005.
Pengalaman Reita di dunia PR
Pengalaman Reita, mengingat banyak kesuksesan yang telah didapatkannya, ternyata cita-cita Reita awalnya bukanlah menjadi seorang Public Relations. Reita Sitanala tidak pernah mengira bahwa pada akhirnya PR menjadi bagian dari hidupnya.
Setelah kuliah di Gerorge Mason University,Amerika Serikat (AS), Reita Sitanala bekerja di bidang pemasaran karena Reita memang mengambil penjurusan di bidang Pemasaran dan manajemen, karena sebenarnya cita-cita Reita sendiri adalah bekerja di bidang perbankan. Karena pada saat itu sekitar tahun 90-an dunia perbankan Indonesia sedang mengalami titik puncak perkembangan yang sangat baik, dan  bidang Perbankan Indonesia menjadi pilihan utama bagi setiap orang untuk bekerja.
Alasan lain, mengapa Reita lebih memilih di bidang pemasaran dan Manejemen dibandingkan bidang lain adalah karena Reita merasa bidang pemasaran merupakan karena pemasaran adalah hal yang menyenangkan dan sangat dinamis, karena seperti yang kita ketahui dunia pemasaran atau sering disebut marketing adalah bidang yang terus menerus berubah dan memiliki kompetitif yang kuat.
 Namun, apa yang dicita-citakan Reita tidak terwujud, Beliau malah memiliki pekerjaan pertamnya di salah satu perusahaan pelayaran, Lalu Reita pindah ke perusahaan konsultan manajemen properti, namun belum lama bekerja di perusahaan properti tersebut,  Reita mendapatkan tawaran untuk bekerja di salah satu perusahaan PR di jakarta, dan di perusahaan konsultan PR tersebut Reita merasa sangat nyaman dan sangat senang sekali karena dengan bekerja sebagai konsultan PR Reita bisa bertemu dengan banyak orang dan selalu belajar sesuatu yang baru dari orang-orang tersebut.

Pembukaan S2 Ilmu Komunikasi STISIPOL Candradimuka






Palembang, 15 Maret 2019 - Sekolah Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIPOL) Candradimuka Palembang berdiri tahun 1979 sebagai lanjutan pengembangan dari Akademi Publistik Candradimuka Palembang (APCP) yang didirikan oleh ketua yayasan ketika itu adalah Drs. H. Ismail Djalili. STISIPOL sampai tahun 2005 dipimpin dan dibina oleh Drs. H. Ismail Djalili dengan dibantu oleh para dosen dan staf akademis dan administrasi umum dan diawasi oleh Yayasan Seni dan Ilmu Pengetahuan (YASIP).
 Pada tanggal 17 Desember 2005 STISIPOL Candradimuka dipimpin oleh Dra. Hj. Lishapsari Prihatini, M.si. Kampus STISIPOL dibangun diatas tanah ± 1.5 hektar dengan kontruksi bangunan bertingkat dengan swadaya masyarakat kampus sendiri. Tetapi tetap mendapat perhatian pemerintahan seperti Mendiknas melalui Dikti dan Kopertis Wilayah II.
Setelah sukses dengan program S1 ilmu komunikasi, kini STISIPOL Candradimuka membuka program Pascasarjana Ilmu Komunikasi yang baru saja diresmikan kemarin 14 Maret 2019 di Novotel Hotel Bandar Lampung. Penyerahan SK diwakili Ketua Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Prof. Slamet Widodo, M.SI kepada Ketua Stisipol Candradimuka Dr. Lishapsari Prihatini, M.Si
Berdirinya Program S2 ini membutuhkan waktu panjang setelah akhirnya memantapkan untuk dibuka. Proses pembangunan S2 komunikasi hampir sama dengan pendahulunya yaitu S2 MAP dimulai dari sarana prasarana sdm dan lain-lain sesuai dengan keperluan dan zaman. Bukan tanpa alasan kenapa program ini baru dibuka itu karena terkendalanya SDM khususnya dosen, karena dosen S3 harus minimal 6 orang.
Yang melatar belakangi berdirinya Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi ini adalah perkembangan zaman di era revolusi sekarang membutuhkan perkembangan ilmu-ilmu bagi masyarakat dalam menghadapi persaingan. Apalagi prodi S1 komunikasi di Stisipol menjadi yang tertua di Sumsel, maka dari itu harus dikembangkan dan terus beradaptasi agar merubah tantangan menjadi peluang.
Dalam program pascasarjana ini STISIPOL melibatkan, UPJM, UPPM, Prodi Komunikasi, BAUK dan BAAK bidang 3 kemahasiswaan dan Ketua Stisipol sendiri. “Dengan dibukanya Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi ini semoga makin banyak generasi Millenial mengembangkan potensinya dalam bidang ini dan semangat untuk melanjutkan cita-cita mereka serta tidak membuat mereka berhenti belajar akan hal baru untuk memajukan kesejahteraan bangsa dan diri sendiri” ujar M.Febrianza M.Si.

Personal Branding

halo semuanya kenalin nama saya Addin Ihdina Wafiq saya sekarang menempuh pendidikan di STISIPOL CANDRADIMUKA dengan mengambil jurusan Ilmu Komunikasi, sebelumnya saya pernah berkuliah di Universitas Tridinanti Palembang tapi hanya berjalan 2 tahun hehe. saya ini sangat suka masak dan tentunya makan haha maka dari itu saya sangat pandai memasak dan  masakan saya itu terbilang enak lohhhh. mulai dari bikin cake, pempek, masakan rumahan sampai jajanan pasar.
Selain memasak, saya juga bisa bernyanyi. kata teman-teman saya suara saya yang lembut bisa membuat mereka senang ketika mendengarkan suara saya. saya juga sering mengikuti lomba nyanyi di cafe-cafe. tidak mesti harus menang yang penting mendapat pengalaman seru. saya suka bernyanyi western dan suka dengan Adele. Saya juga berharap bisa menjadi penyanyi terkenal seperti adele atau menjadi chef ternama seperti chef Marinka. kalau saya yakin dan bersungguh-sungguh pasti semua bisa diwujudkan.

dikala waktu sengang saya sering menghabiskan waktu dengan media sosial saya, karena hanya dengan sosial medialah saya merasa tenang dan senang. saya punya banyak teman karena sikap saya yang humble dan funny, saya bisa membawa suasana menjadi hangat ketika bersama teman-teman dan terkadang membuat teman-teman saya tertawa lepas ketika mereka sedang ada masalah. Bersikaplah baik kepada semua orang, percayalah tuhan akan membalas itu semua dengan indah.
instagram saya Andinnwafiqziudith
ID Line saya Andinnwafiq
twitter saya Lemon chrunchy
mari berteman bersama saya